Soal Vaksin Berbayar, Komisi IX DPR Akan Cecar Menkes dalam Raker Hari Ini

JAKARTA – Kebijakan vaksin berbayar yang ditempuh cucu BUMN Kimia Farma Diagnostik (KFD) sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 19 Tahun 2021 itu menguntungkan dan ditentang masyarakat.

Meski Kimia Pharma mengumumkan penundaan pelaksanaannya yang semula dijadwalkan dimulai pada Senin (7 Desember kemarin), kebijakan tersebut seharusnya dibatalkan dan akan menjadi salah satu topik pembahasan dalam rapat kerja Komisi IX (Raker) dari DPR. perwakilan dengan Menteri Kesehatan hari ini pukul 10.00 WIB.

Komisioner IX PAN DPR Intan Fawzi menjelaskan, awalnya Komisi IX DPR meminta petunjuk teknis (juknis) vaksin COVID-19 melalui Permenkes 28/2020 yang ditandatangani Menteri Kesehatan. . Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Baca Juga : Bagikan Bansos yang Cair di Bulan Juli, Pantengin Rekening!

Kemudian terjadi perubahan kedua, Permenkes 10/2021, yang memungkinkan dibuatnya vaksin untuk gotong royong yang biayanya ditanggung oleh badan hukum. Dan sekarang ada lagi keputusan perubahan Menteri Kesehatan 19/2021, yang menyatakan bahwa Anda dapat memvaksinasi orang dengan biaya Anda sendiri.

“Dan itu ditandatangani pada Senin, 5 Juli 2021, padahal kami Komisi IX seharian bersama Menkes dari pagi hingga sore dan tidak diserahterimakan sama sekali. Artinya, amandemen itu tidak disampaikan kepada Menteri Kesehatan pada hari pertemuan kami, dan ditandatangani pada hari yang sama. Jadi kami sebagai DPR bekerja, kami pantau dan minta dibatalkan,” kata Intan saat dihubungi, Selasa (13/7/2021).

“Oleh karena itu, hari ini kita akan mengadakan rapat kerja, insya Allah,” imbuhnya.

Apalagi, lanjut Intan, jika melihat chart harga, lumayanlah karena harga per dosisnya Rp 321 ribu kemudian dikalikan dua dosis, dan juga ada service charge Rp 117 ribu, jadi angka Untuk vaksin berbayar ini Rs 879.140.

Baca Juga : BLT Cair Minggu Ini, Berikut Cara Mendapatkan Bansos Tunai Terbaru

Kemudian, kata Intan, vaksinasi berbayar itu dilakukan oleh Kimia Farma Diagnostika yang sempat bermasalah dengan perusahaan saat melakukan antigen smear di Bandara Kualanamu Medan, dan mungkin masih mengingat kejadian antigen smear bekas dengan korban lebih dari 30.000 orang.

Lagi Trending :  BUMN Didorong Transformasi Digital, Ini Usaha Kliring Berjangka Indonesia

“Artinya Kualanamu belum selesai, menurut saya tidak bisa selesai hanya dengan mengganti direksi saja,” ujarnya.

Bendahara DPP PAN juga menanyakan kenapa rencana pemerintah yang awalnya tidak dibayar vaksinasi, sekarang vaksinasi berbayar dilakukan untuk perorangan, lalu apa tanggung jawabnya jika nanti dialihkan ke pihak ketiga. Karena ini masa pandemi, saat kesehatan adalah hak masyarakat, ditambah ada kerusuhan terkait kondisi pandemi yang tidak pernah memiliki tingkat penularan yang rendah. Meski sempat ditunda, hal itu tak membuat masyarakat lega.

“Kimia Pharma mengumumkan penundaan vaksinasi berbayar, yang seharusnya dimulai hari ini. Tentu saja, saya mendesak untuk membatalkannya karena kondisi saat ini. Bukan hanya latency, karena hanya data dan sebagainya. , Anda hanya dapat membayar untuk negara bagian dan struktur bisnis. Tidak ada yang diambil dari rakyat,” bujuk Intan.

Baca Juga : Begini Cara Mencairkan Bansos Tunai Rp600 Ribu

Deputi Depok-Bekasi Dapil mengaku jelas Komisi IX DPR melewatkan Permenkes ini, karena tidak pernah dijelaskan atau disebut-sebut oleh Menteri Kesehatan. Sementara itu, masalah distribusi vaksin adalah 15 juta orang menerima 2 dosis vaksin ini, sementara hanya 38 juta orang yang menerima dosis pertama.

Masih banyak lagi yang bisa dikembangkan, kata Intan. Bukan menjual ke orang. Selain itu, tampaknya tidak ada negara yang membayar vaksinasi.

“Bahkan Amerika liberal. Ini adalah negara-negara liberal. Mereka tidak membayar semuanya. Bahkan orang asing yang datang ke negara mereka divaksinasi. Karena tujuannya adalah herd immunity dalam konteks pandemi, dan itu harus menjadi pedoman,” ujarnya. Baca juga: Lukhut: Jika seseorang berbicara tentang situasi yang tidak terkendali, saya akan menunjukkannya ke wajahnya.

“Ini darurat kesehatan, kecuali vaksinasi jaringan diulang dan dilakukan, ini dalam rangka herd immunity, sehat itu tujuannya,” pungkas ketua umum PUAN.

Baca Juga : Jokowi Instruksikan Sri Mulyani Cairkan Bansos Minggu Ini